Picture
“Aku mencintaimu, aku merindukanmu, aku sangat menyayangimu, dan aku sangat membutuhkanmu,” ucap Adrianto malam itu. Pandangannya menelisik keremangan malam yang menyapa melalui sela-sela jendela kamarnya. Pikirannya menerawang ke dasar palung kenangan yang paling dalam. Sementara tubuhnya yang gempal, tersandar lunglai di sudut keheningan. Yang ada di dalam pikirannya malam itu hanyalah tentang dia, dia dan dia. Sketsa wajah yang selalu saja dirindukannya, terutama saat malam-malam menyelimuti kesendiriannya.

“Bagaimana rupamu hari ini, cantik? Lama tak kujamah tubuhmu, lama tak kujajal kemampuanmu,” gumamnya dalam keheningan. Saat malam kian larut, Adrianto terus saja bergelut dengan kenangan dalam pikirannya. Namun matanya telah mengisyaratkan rasa kantuk yang mendalam. Sementara bibirnya yang terus menguap tak mampu lagi menyembunyikan tuntutan alam bawah sadarnya. Hingga kedua kelopak mata itu kemudian perlahan tertutup.

Samar-samar, didengarnya suara pintu di samping rumahnya diketuk. Tak ada tanda-tanda orang mengucapkan salam. Hanya ketukan demi ketukan saja yang samar terdengar. Antara sadar tak sadar, Adrianto kemudian bangkit dari ranjangnya. Kemudian didatanginya sumber suara itu. Alangkah terkejutnya Adrianto saat menatap apa yang ada dihadapannya. Adrianto kemudian menggosok-gosok kedua matanya dengan kedua tangannya untuk meyakinkan apa yang dilihatnya di depannya itu nyata.

Adrianto kemudian melihat sekelilingnya, langit begitu cerah, dan matahari telah menyengati bumi, sementara kicauan-kicauan burung menandakan bahwa hari masih pagi. Adrianto pun kembali menatap apa yang ada di depannya. Matanya menatap tajam wajah pemuda yang biasa disapa Ato ini. Pancaran paras wajahnya seolah mengisyaratkan kerinduan yang sangat dalam. Ato pun tersenyum bahagia saat menatap pandangan itu.

Dia, hanya dialah yang menemani Ato di saat sendiri. Menghangatkan suasana di kala sepi, menggetarkan dawai-dawai hati di kala sendiri. Dia, hanya dialah yang sanggup mengerti tentang kesetiaan. Hanya dialah yang sanggup memahami arti hubungan. Hanya dialah yang menjadi curahan hidup dan belahan jiwa. Hidup dengannya, tak ada perasaan saling membuktikan. Hanya dialah yang tak pernah meronta saat kesakitan dan kebahagiaan mengisi perasaan. Dia adalah pandangan pertama buat Ato. Karenanya, dia tak tergantikan.

Rupanya memang biasa saja. Tak elok, tak juga jelek. Tak juga bisa dikatakan biasa-biasa saja. Namun dia istimewa. Setidaknya itulah pandangan Ato padanya. Bagaimanapun, cinta adalah masalah rasa, bukan masalah rupa. Apa pun dia, begitulah adanya. Cinta tak akan berpaling tak akan beranjak. Pun buat Ato. Karena baginya, dengan kehadirannya, hidup Ato mengalami perubahan yang sangat drastis. Dia bisa diajak ke mana saja, diajak nonton konser band, jalan-jalan ke mall, singgah di warnet, atau sekedar diajak jalan-jalan ke konter tempat Ato mangkal setiap harinya.

Tak pelak, sejak perpisahan dengannya, hidup Ato jadi tak karuan. Pernah satu hari terpikir untuk berpindah ke lain hati. Ato pun bisa sejenak melupakan keberadaannya. Terlebih pacar barunya ini lebih enerjik, lebih lincah, lebih menantang. Apa pun yang menjadi figur terdahulunya, berbanding terbalik dengan yang satu ini. Namun hal ini hanya berlangsung sesaat, sosok lama itu kembali merasuki ingatannya. “Aku ingin suara sopran itu kembali!,” tekadnya dalam hati.

Secercah harapan mencuat dalam senyuman. Dawai-dawai gitar mengiringi lagu “Secret Heart”-nya Feist mengisyaratkan jika hatinya sedang berelegi setelah pintu hati itu untuk tertutup begitu lama, entah kenapa. Ingatan lamanya kembali melayang ke dalam peristiwa-peristiwa yang penuh kenangan itu. “I swear i recognize your breath. Memories like fingerprints are slowly raising. Me, you wouldn't recall, for i'm not my former. It's hard when, you're stuck upon the shelf. I changed by not changing at all, small town predicts my fate. Perhaps that's what no one wants to see. I just want to scream...hello... My god its been so long, never dreamed you'd return. But now here you are, and here i am. Hearts and thoughts they fade...away...,” Eddy Vedder terdengar bimbang.

……

“Tidakkkkkkkkk……. Tidakkkkkkkk….. tidakkkkkkkkkkkkkkk, jangan rebut dia dariku hai kau Polantas!! Mari kita selesaikan masalah ini secara jantan karena aku adalah Vespaman!,” teriak Ato.

“Kunaon ari Ato, sare kok gogorowokan!,” suara ibunya terdengar dari ruang tengah rumah.

“Sok geura hudang, geura shalat shubuh. Itu motor di luar teu diasupkeun, kumaha mun leungit!! Sok hudang, ceunah rek nguruskeun surat-suratna?,” omelan itu membuyarkan impian.

Yang tertidur kemudian beranjak dari kasurnya. Diintipnya vespanya dari balik jendela. Dia terlihat kedinginan. Dan ia masih menungguinya dengan setia, meski tubuhnya telah kuyup oleh embun. “Maafkan aku, buntung, aku ketiduran,” rayu Ato dari kejauhan.

“Buntung, hari ini kita merobek jalanan, kita akan urus surat-suratmu agar tidak dirampas Polantas. Mari kita selesaikan dengan jantan karena aku adalah Vespaman,”  kata-kata dalam mimpi terdengar lirih dari balik jendela.


 


Comments




Leave a Reply