Sabtu 21/01/2012. Pukul 06.00 WITA. Suasana di sekeliling kapal nampak gelap. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain aktivitas para anak buah kapal (abk) yang sibuk menurunkan muatan. Orang yang tidur di sebelah saya pun telah tiada. Tinggal setengah bungkus rokok beserta koreknya saja yang ditinggalkannya.

Matahari pun seolah enggan untuk menyapa pagi. Terlihat dari tak adanya sepercik pelita yang biasanya menyembul dari ujung cakrawala. Burung-burung belibis memekik dari pepohonan nipah. Pun werok sama bangkoe. Sesekali kawanan monyet itu turun ke sungai yang lebarnya sekitar 40 meter itu untuk sekedar melepas dahaga.

Mesin perahu yang digerakkan 4 buah mesin diesel itu tak pun tak dengar geramannya. Sepertinya ia lelah setelah semalaman memecah kesunyian laut di ujung Timur pulau banjar. Hulunya tertambat erat di dermaga sebuah perusahaan batubara. Dan penumpangnya telah jauh berkurang dari pertama berangkat.

07.00 WITA. Masih belum ada tanda-tanda matahari akan terbit dari arah mana. Sekeliling pun masih gulita. Dan kapal masih tertambat di tempat semula.

Dalam pikiran terus saja bergulir pertanyaan tentang dimana dan dari mana matahari akan muncul. Kurogoh gps dari dalam tas dan aku pun bergegas naik ke dek. "Gerimis, pantas saja matahari tak seperti biasanya," gumamku sembari memperhatikan angka-angka yang ada di dalam alat yang berukuran segenggam tanganku itu.

Jarum utaranya langsung menukik saat posisi sinyal di satelitnya terisi. "Hmmmh, perjalanan yang jauh, 180 km menuju Barat Laut dari kota terakhir yang kusinggahi rupanya," secercah kegembiraan mengemuka." Namun posisi saya sekarang dimana?," pertanyaan lain muncul manakala jawaban dari alat itu hanya berupa angka-angka tentang rentang pendek dan rentang jauh dari garis bujur timur dan garis lintang selatan.

Terus saja kuamati pergeseran angka-angka itu seraya bersila. Gerimis terus turun, dinginnya kian menusuk rusuk yang seserpihnya hilang entah kemana, malam tadi. Kunyalakan sebatang rokok kretek yang kurogoh dari saku jaket. Dan aku pun beranjak ke tepian dek untuk melihat posisi arus sungai.

Tak kelihatan. Tenangnya arus sungai di bawah kakiku setenang suasana di sekelilingku. Ku perhatikan para abk telah jenuh menunggu orang-orang suruhan dari perusahaan batubara yang tak juga menampakkan batang hidungnya. Mereka pun berteriak-teriak pada nahkoda yang sedari tadi diam dalam ruangannya, di depan posisiku yang tengah berjongkok.

Rindu kafein. Tak ada tukang kopi di dalam kapal ini, hanya tadi malam saja ada kulihat orang berjualan, itu pun hanya telur puyuh. Saat suasana dingin seperti ini, selalu saja kopi hitam pekat yang menyeruak dalam benak. Apalagi dinginnya pagi ini tak pula sanggup ditahan jaket yang berbahan polar. Bertambah pulalah kerinduan pada teman yang selalu setia menemani perjalananku. Dan dia sekarang tak bisa hadir di sini, di tanah borneo ini. [kotabaru,
 


Comments




Leave a Reply