..paku-paku baja melesak ke dalam tanah. suara gada raksasa menggema ke segenap penjuru kota. dan rawa-rawa pun berganti rupa menjadi bangunan megah yg kokoh mencengkram tanah.

..17.20 wita. matahari mulai meredup. tak terasa lagi garangnya sengatan saat ia menuju ke peraduan.

..lalu lintas kesibukan kian memenat. kendaraan-kendaraan mewah melesat di jalan protokol yg setengahnya dipakai parkir, pedagang kaki lima ataupun pangkalan ojek. tak sedikitpun ruang tersisa bagi pejalan kaki. meski, luasan trotoar yg terbentang di sepanjang kota ini cukup untuk memuat tiga banjar orang sekaligus.

..terlebih bagi penyebrang jalan. tak satupun terlihat adanya jembatan penyebrangan di kota sejuta sungai ini. saya sampai berpendapat jika orang-orang di sini sebagian besar tak bisa menyebrang jalan. mungkin karena terlalu malas, mungkin juga terlalu dimanjakan alam, atau faktor kebudayaan yg tidak mengakomodir pejalan kaki.

..seorang kenalan berpendapat, itu semua terjadi karena faktor gaya hidup yg terlalu kota dibanding ibukota. dia berargumen, leluhurnya merupakan pejalan kaki yg tangguh. hidup diperbukitan yg lebat, kendaraan merupakan hal yg mewah. namun rupa zaman telah merasuk lebih dalam ketimbang nilai warisan leluhur. dan inilah sekarang, dua ratus meter adalah jarak yg jauh yg harus ditempuh dg taksi (sebutan untuk angkutan kota). atau, bisa juga menaiki ojek yg berbanderol lima ribu rupiah untuk jarak dua ratus meter ini.

..mungkin mahalnya harga jasa ojek ini lebih diakibatkan karena fluktuatif dan tentatifnya harga minyak (sebutan untuk bbm). normalnya harga bensin memang empat ribu lima ratus rupiah. namun harga itu harus dibayar dg antrian yg minimal mencapai lima ratus meter. itu pun jika beruntung karena bensinnya masih ada. jika tidak, bensin eceran di depan spbu menjadi pilihan logis yg biasa dipilih. meski, tak jarang harganya mencapai 15 ribu rupiah per liternya. tak heran jika kendaraan semewah apa pun berhenti di depan kios eceran untuk mengisi tanki bensinnya. dan kian tak heran pula jika bayar angkutan umum di kota ini membuat kita yg biasa tinggal di jawa, mengurut dada.

..betapa tidak? uang seratus ribu saja ibarat tak berarti saat dipakai untuk jalan-jalan berkeliling kota. amannya, "tanya dulu harganya, lalu tawar sebisanya," cerita seorang teman. dan itu memang berguna, ditambah dg bauran bahasa lokal yg dipelajari diperjalanan dg terbata, harga menjadi kendala yg bisa diminimalisir.

..berjalan kaki ibarat barang mewah di sini. ia hanya kentara jika hari minggu datang menyapa. namun itu pun hanya berlaku di tempat-tempat tertentu saja. selebihnya, masih seperti hari biasa dimana pejalan kaki menjadi tontonan gratis disela-sela kegiatan keseharian.

..berbeda jika kita menyempatkan diri menyambangi pedalaman, terutama kampung dayak. berjalan menjadi aktivitas keseharian menuju ladang dan perkebunan. di sini, pejalan kaki menemukan habitatnya di lingkungan satu spesies dan tak dipandang sebagai "the other."

"walking is not a crime isn't?," gerutu boot renta yg sebagian jahitannya telah termakan usia. ia selalu saja begitu, asik berjibaku dg tanah dan batu. menggerutu saat tapak-tapaknya menyentuh aspal goreng, sebutan orang pedalaman papua untuk hotmix. berbeda jika ia ditunjukkan jalan menuju dusun yg bersebrangan dg dusun yg tengah dijejaki. saat yg ditanya berkata "ikuti saja pohon listrik (sebutan untuk tiang listrik, yg sebagian besar kabel listriknya memang ditambatkan pd pepohonan)..," ia akan dg riang gembira berderap. meski jalanan yg ditempuhnya merupakan tanah merah di daerah perbukitan, dan itu biasanya menghabiskan seperempat hari untuk melaluinya.

..sepertinya boot ini terlalu konservatif untuk menerima perubahan. mungkin karena usianya yg telah genap dua windu. lahir di zaman keemasan sepatu jungle, dimana rambut gondrong dan syal terikat di kepala menjadi teman dari flanel dan celana lapangan, boot ini menjadi pembeda di zamannya. namun sekarang, boot yg saat dibeli hanya seharga lima puluh enam ribu rupiah ini sudah saatnya di museumkan dan menjadi warisan sejarah masa lalu. bersama celana lapangan yg tak lagi berupa, bersama kenangan ransel yg telah hilang kemana, bersama sepantat rambut yg tinggal kuncirnya. kenangan ini segeranya dicenotaphkan dalam aquarium ingatan.

..cukuplah boot ini yg merasakan cibiran. biarkan boot ini saja yg melihat pandangan-pandangan yg memarjinalkan. namun bila boot ini bisa bicara, belantara jawa dan borneo adalah sepasang kekasih yg berdialektika. namun, biarkanlah ia menjadi saksi bisu bagi asam manisnya aspal goreng dan pahit getirnya pohon listrik. sehingga, tak ada lagi perjalanan yg mampu menyakitinya. dan ia pun terbaring dalam kuburan kenangan yg bukan sebagai pecintaalam, tapi pejalan kaki yg menghayati arti kontemplasi ragawi di jagat dan rohani.

..malam kian pekat. tak terasa, banjaran lampu jalan kiat mengkilat. sayang, sedari tadi hanya tertegun menyaksikan perubahan yg terjadi di sini. [Banjarmasin, 13 February 2012]



Leave a Reply.